“Breaking the Rules or a Trendsetter?”

Saat saya masih duduk di bangku SD kelas 2, saya ingat saya mengikuti pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian. Dan hari itu para murid diharuskan membuat bunga dari kertas berwarna. Saya paham dan ikuti semua instruksi yang diberikan guru saya, tapi karena saya sudah bosan dengan instruksi yang lambat, saya mulai berkreasi dalam menggunting dan menjadikan bunga saya berbeda dengan anak lain. Ketika dikumpulkan, karena bunga yang saya buat berbeda sendiri, guru saya menghukum saya dengan memberikan nilai 4. Ketika itu saya ingat saya sedih luar biasa, sampai air mata jatuh bercucuran. Tapi, karena tidak terima dengan nilai itu dan saya merasa saya bisa, saya mulai lagi membuat bunga yang sama dengan teman-teman saya. Dan tentu saja, guru saya menghadiahi saya angka 8 karena bunga karya saya itu sesuai dengan instruksi yang ia berikan. Apa yang saya alami 20 tahun lalu, mungkin masih saja terjadi pada kehidupan kita saat ini. Seseorang hampir selalu mencoba untuk mengikuti arus ‘kelaziman’ agar tidak dinilai berbeda dan bisa diterima oleh masyarakat sebagai bagian dari lingkungan.

Apa yang kita lakukan tiap hari adalah bagian dari adaptasi, mencoba untuk membuat diri kita selalu masuk di semua kondisi dan semua lingkungan masyarakat. Bahkan adaptable selalu menjadi salah satu kriteria dalam mencari kerja di semua tempat. Tapi, apakah menjadi orang yang mudah beradaptasi dan diterima lingkungan adalah orang yang pasrah dan mengikuti semua aturan? Menurut saya, jawabannya TIDAK. Meskipun saya tidak serta-merta setuju dengan pendapat ‘rules are meant to be broken’ tapi menurut saya, aturan dibuat untuk menjadi guidelines dan bukan untuk diagungkan, apalagi aturan tidak tertulis yang kadang ada di lingkungan sosial kita. Meskipun kadang tidak sesuai dengan logika orang kebanyakan, tapi menjadi seorang followers bukanlah pilihan saya. Saya melihat setiap orang diciptakan dengan keunikan mereka masing-masing, Namun kadang dalam kehidupan sosial, kita meredam hal-hal yang membuat kita berbeda, hanya karena kita malu atau takut tidak diterima oleh kebanyakan orang. I say, break the rules! If you wanna be crazy, be crazy.. Pada dasarnya revolusi tidak akan terjadi jika semua orang berpikiran dan berkelakuan sama.

Dalam kehidupan pribadi saya, sebagai news anchor saya selalu dianggap sebagai pribadi yang serius, kaku dan penuh dengan aturan ketika berbicara. Padahal, dengan pekerjaan saya yang memang menuntut saya untuk serius, setiap ada kesempatan untuk lebih nyeleneh akan saya pergunakan dengan sebaik-baiknya. Tidak selamanya kok, seorang news anchor harus penuh dengan keseriusan, kita juga manusia yang suka bersantai dan menikmati lelucon-lelucon ringan. Keunikan-keunikan karakter kita yang dibentuk dengan budaya dan latar belakang yang berbeda-beda adalah yang membuat karakter tiap orang berbeda. Dengan menonjolkan karakter kita masing-masing tanpa takut akan judgment dari lingkungan sekitar, pasti akan membuat kita jauh lebih distinctive di tengah kerumunan orang, dan inilah pula yang akan menjadi kekuatan dari brand image kita masing-masing. Saya sendiri lebih memilih untuk menjadi seorang news anchor dengan sisi humanis yang bergerak secara cair dan membengkokan anggapan bahwa ‘kita adalah yang tahu segalanya’, dan membalikkan pemahaman ini menjadi ‘kita adalah yang ingin tahu segalanya’. Dengan menjadi pribadi yang berbeda dengan karakter yang unik, maka sudah pasti kita berjalan untuk menjadi seorang trendsetter yang bisa membuat orang lain melihat apa yang ada di dalam diri kita tidak lagi sebagai kekurangan, tapi kelebihan kita.

Vokalis Foo Fighters, Dave Grohl, pernah menyatakan bahwa ia tidak percaya pada ‘guilty pleasures’ jika memang suka Britney Spears, maka go ahead, silahkan suka pada Britney Spears. Karena saat ini banyak orang yang terlalu memberi label ‘ini keren’ ‘itu tidak keren’. Kadang, kita terlalu terobsesi dengan apa yang menjadi pendapat kebanyakan masyarakat, dan lupa akan apa yang benar-benar menjadi pendapat kita pribadi. Maka, untuk menjadi diri sendiri dengan pendapat yang lebih orisinil, cobalah untuk mendengar hati kecil kita. Jika memang suka pada musik pop, silahkan suka pada musik pop, tidak ada yang mengharuskan anda untuk menyukai musik jazz. Jika memang suka pada makanan dari warteg di dekat rumah, makanlah dari warteg, tidak ada yang mengharuskan anda untuk makan sushi di restoran jepang terkenal. Jika memang ingin menjadi diri sendiri dan menjadi trendsetter, jadilah diri anda sendiri dan banggalah akan pilihan pribadi anda! 

Do you believe in Happily Ever After (in weddings)?
Belajar Baca