Choose to Choose

“Gua nggak mau dong kalo kelihatannya gua desperate gitu, dia harus kasih lihat usahanya dong kalo mau sama gua..” itu yang saya dengar ketika kebetulan duduk di sebelah sekelompok perempuan-perempuan muda di sebuah kafe di Jakarta. Tanpa bermaksud untuk mencampuri urusan orang, saya mencoba memperhatikan sekelompok perempuan ini, mereka luar biasa terawat, berpenampilan menarik, dengan harum wewangian parfum mewah. Tapi yang menyita perhatian saya adalah pembicaraan mereka yang tak jauh-jauh dan ubek-ubek mengenai permainan tarik ulur antara laki-laki dan perempuan melulu yang membawa saya menjabarkan fenomena ini dalam tulisan.


Mabuk Cinta

Tidak perlulah kita menelaah sampai ke Perpustakaan Nasional untuk tahu bahwa perempuan selalu terobsesi dengan romance, dan perempuan membawa hal ini di dalam setiap aspek kehidupannya. Semua hal yang berbau romance bisa dijual dalam sekejap kepada segmen perempuan, mulai dari film drama percintaan, musik yang mengumbar lirik gombal, sampai dengan buku novel yang bercerita melulu dan lagi-lagi tentang cinta. Seakan menjadi candu, pencarian cinta ini ditanamkan sejak kecil melalui berbagai dongeng (Disney mengambil andil besar dalam hal ini) hingga kepada ajaran agama yang juga akhirnya bermuara di pernikahan.

Sebagai perempuan yang dibesarkan dengan cara yang lazim, saya pun berpikir bahwa pencarian cinta menjadi hal yang cukup mendasar di dalam hidup seseorang. Dalam sebuah artikel yang dilansir cnnindonesia.com menyatakan bahwa meskipun tren pernikahan di banyak negara di dunia mengalami penurunan karena perempuan banyak yang sudah memilih fokus di karir, akan tetapi di Indonesia tetap tinggi. Seorang perempuan masih dianggap belum “utuh” jika masih berstatus lajang.

“Di Indonesia, perempuan selalu dikaitkan dengan status perkawinannya,” kata Sosiolog Ida Ruwaida.

Namun, jika memang hal ini merupakan kebutuhan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, maka pertanyaan yang ada di kepala saya adalah mengapa banyak perempuan menyerah kepada budaya timur yang selalu “menunggu jodoh”?


Terlalu Banyak Tanda yang Bertebaran

Termasuk pembicaraan yang saya dengar dan saya ceritakan di awal tulisan, perempuan seringkali menebarkan segala bentuk tanda untuk dibaca oleh para lelaki. Tapi apa mereka tahu bahwa tidak semua laki-laki memiliki kemampuan membaca tanda? Bahkan saya rasa, laki-laki yang ahli dalam studi semiotika pun masih memiliki kesulitan ini.

Seorang Relationship Coach asal Amerika, Kathy Stafford, penulis buku “Relationship Remorse : Mistakes Women Make When Shopping for a Man.” menyatakan bahwa pria berpikir secara direct.

“They pay more attention to what is said, not how it’s said.” Pernyataan dari Stafford. Maka jelaslah bahwa sebenarnya kekhawatiran perempuan akan persepsi ini itu yang masuk ke kepala laki-laki, sebenarnya tidak ada. Perempuanlah yang penuh dengan kekhawatiran takut diberi label “murah”, atau “agresif” yang selama ini cukup menghambat diri sendiri untuk mencari cinta di tengah derasnya arus kehidupan kota besar.

Mungkin sudah saatnya perempuan mengubah cara berpikirnya menggunakan sedikit logika laki-laki. Buat apa mengirim 1000 sinyal jika yang dikirimkan tidak dapat membacanya? Sama saja ketika saya memberitahu anjing saya untuk stop mengacak-acak tanaman ketika dia sedang bosan. Karena, pada dasarnya mereka TIDAK MENGERTI.


Be brave!

Dengan kenyataan yang dijabarkan di atas, mengambil kendali dalam pencarian cinta mungkin sudah terpikir sebelumnya, mungkin juga belum. Akan tetapi, mungkin dengan stop menunggu dan menjadi perempuan yang harus “dimenangkan” anda akan mendapatkan pria idaman anda.

Memegang kendali bukan berarti harus agresif atau melupakan adat ketimuran sepenuhnya, but you can simplify the signs by telling the truth. Memberikan pernyataan bahwa anda tertarik, bukanlah sebuah dosa besar, malah mungkin akan menguntungkan dan menghemat waktu. Daripada berlama-lama membuang waktu dengan permainan siapa yang harus dimenangkan, dan siapa yang harus mengejar-ngejar, anda bisa fast forward ke hubungan serius yang tidak memerlukan 100 orang peretas untuk memecahkan kode-kode anda.

 Jika terus menerus menunggu untuk didapatkan dan dimenangkan oleh para laki-laki, mungkin saja laki-laki yang akan menjadi suami idaman sudah terlebih dahulu menyerah pada permainan yang terlalu bertele-tele dan misinterpretasi tanda yang akhirnya terlewatkan begitu saja. Jangan sampai terjebak dengan persepsi masyarakat akan perempuan yang baik adalah yang duduk anteng, tanpa kemampuan untuk membuka mulut. Choose to choose, bersuara, pilihlah orang yang anda suka dan stop menunggu.

Eat Like Shahnaz
10 Things Nobody Told Me About Yoga