Healthy Me

Halo teman-teman! Thanks for taking the time to visit my page. Beberapa waktu terakhir website ini sempat terbengkalai karena saya terlalu sibuk berkecamuk dengan riset-riset tentang kesehatan yang tidak ada habisnya. But now it is time, saya akan memperbaiki persepsi saya tentang hal yang paling mendasar di kehidupan manusia, yakni makanan.

Let me start this one by saying sorry to myself. Maaf ya kalau selama ini persepsi saya tentang makanan banyak yang salah, maaf karena tidak menjaga diri dengan baik. Beberapa bulan ini saya benar-benar memakai waktu untuk mengenal diri sendiri lebih jauh, tidak hanya dari sisi kejiwaan tetapi juga dari sisi kesehatan fisik. Kenapa demikian? Well here’s my story..

Seperti yang kalian ketahui, saya sudah lama menikmati pola hidup “sehat” yang penuh dengan aturan makan sejubel, aturan olahraga seabrek-abrek, dan tidur cukup yang luar biasa saya jaga. Saya bahkan selalu mengingatkan banyak orang untuk melakukan #eatlikeshahnaz tagar pribadi saya yang isinya tentang makanan sehat. Tapi satu kesalahan terbesar saya adalah tidak melakukan check up kesehatan secara menyeluruh sehingga saya bisa paham betul kesehatan saya, sebelum memulai berbagai diet yang akhirnya berakibat buruk pada metabolisme tubuh saya.

Semuanya diawali ketika berat badan saya naik 5 kg. Saya sering kelelahan dan memerlukan waktu penyembuhan 2-3 minggu untuk penyakit sepele seperti influenza. Banyak diet telah saya coba dan semua hasilnya nihil. Saya hanya mendapati diri saya tidak dapat menahan lapar dan sering sekali ingin makan makanan manis. Kunjungan ke dokter gizi menyatakan bahwa saya mengalami defisit protein yang mengakibatkan tubuh saya tidak bisa melerai lemak untuk dibakar menjadi tenaga. Hal ini yang menyebabkan saya mudah lelah dan berat badan saya naik. Ibarat mobil diesel yang diisi dengan bensin, ya masuk aja sih ke badannya, tapi tidak terlerai dan bisa berakibat buruk bagi si mobil.

Bertahun-tahun saya memberikan makanan yang kurang baik pada tubuh saya. Ya, saya sangat jarang memakan gorengan. Ya, saya tidak pernah memakan jeroan dan bagian-bagian lain dari tubuh hewan yang perlu dipertanyakan. Tetapi, saya tidak mendengarkan tubuh saya ketika ia sedang memberitahu sesuatu. Saya tidak mendengarkan ketika tubuh saya lapar. Saya tidak mendengarkan ketika tubuh saya lelah. Bahkan yang paling parah, saya tidak mau mendengarkan ketika tubuh saya sakit. Beberapa bulan ini saya mencoba untuk menebus dosa yang telah saya lakukan kepada tubuh saya, berikut beberapa hal yang saya lakukan.

1. Kembali makan protein hewani.

Alasan saya tidak lain dan tidak bukan adalah kekurangan protein. Tubuh saya bukanlah tubuh yang bisa menerima protein nabati dengan baik. Bahkan ketika terlalu banyak kedelai, saya cenderung bloating dan juga mengalami gangguan menstruasi. Ini alasan utama saya kembali mengkonsumsi semua protein hewani. Mulai dari sapi, ikan, ayam, kambing, dan babi.

Meskipun hal ini menjadi yang terberat karena saya sebagai penyayang binatang tidak ingin menyebabkan kesakitan pada hewan-hewan ternak tapi sekarang ternyata ada pilihan lain, namanya grass-fed beef. Daging sapi ini lebih natural, karena diambil dari sapi yang memakan rumput bukan makanan ternak biasa yang banyak mengandung gandum. Dan dikatakan daging sapi ini tidak mass produced, meskipun saya masih butuh riset lebih jauh mengenai hal ini. 

Saya mencoba untuk memakan semua daging secara bergantian, untuk mendapatkan nutrisi dan manfaat dari semua jenis daging, tanpa mengurangi protein nabati yang saya dapat dari kacang-kacangan. Saya masih menjauhi segala macam jeroan dan mengambil bagian daging yang baik-baiknya saja. You can judge all you want, but I'm done being a vegetarian or pescetarian, I'm a flexitarian!

2. Mengurangi kopi dan teh.

Meskipun hal ini sangat sulit untuk dilakukan bagi saya, si makhluk subuh. Tapi dengan kegigihan akhirnya saya bisa melakukannya. Diawali dengan pening dan sakit kepala yang mengganggu ketika badan ini tidak mendapatkan kafein, saya mencoba untuk mendetox diri saya dengan banyak meminum air putih dan banyak istirahat. Setelah lebih dari 1 minggu, tubuh saya tidak lagi menginginkan kafein dan malah lebih segar untuk dibawa berkegiatan.

Hal yang perlu diketahui adalah kopi dan teh menghambat absorpsi dari banyak vitamin dan mineral. Khususnya teh yang sangat menghambat penyerapan zat besi. Sekarang saya menggantinya dengan jus jeruk alami, yang ternyata sangat membantu tubuh untuk menyerap zat besi dan beberapa jenis mineral lain.

3. Minum Lemon Shot setiap pagi.

Yang satu ini harus dijadikan kebiasaan. Meskipun terkesan sepele, tapi meminum perasan air lemon setiap hari bisa membantu tubuh untuk proses detoxifikasi yang lebih menyeluruh. Tidak perlu banyak-banyak, hanya seperempat atau setengah lemon, kemudian dicampur dengan air putih seperempat gelas, kemudian glek!

Bagi yang takut akan membuat sakit perut atau tidak, coba dulu deh.. Karena kenyataannya lemon sangatlah ramah kepada perut. Dan meminum air lemon di pagi hari dapat membantu lambung untuk mencerna makanan setiap hari.

4. Mendengar ketika tubuh lelah dan tidak memforsir latihan.

Akibat menjadi korban dari banyak metode fitness. Saya menjadi yang sangat ambisius dan tidak tahu kapan badan saya lelah. Dalam seminggu, saya bisa 3 kali berlari dengan jarak 7 km. Belum lagi olahraga yang saya lakukan diantara saya lari, seperti renang, yoga, pilates dan lainnya. Hal ini tidaklah baik untuk tubuh karena saya jarang memberikan waktu untuk sel-sel tubuh saya meregenerasi. Ini mungkin yang menyebabkan saya mudah lelah dan mudah terserang penyakit.

Saya ganti olahraga saya menjadi olahraga ringan yang harus saya lakukan setiap hari. Saya hanya menjadwalkan 30-45 menit berolahraga ringan, yang tidak harus saya lakukan sampai saya kelelahan. Akhirnya saya merasa lebih segar setiap hari, tanpa perlu tertidur ketika selesai fitness.

Jadi, apa yang mau saya katakan disini bukanlah membuang semua aturan-aturan hidup anda yang begitu saklek dengan diet dan latihan. Karena saya juga tetap menjalani diet gluten-free dan olahraga teratur. Tetapi lebih kepada mengenal diri sendiri. Jika anda seseorang yang cocok menjalani vegetarian atau vegan lifestyle, lanjutkanlah karena itu baik untuk bumi. Tetapi catatannya anda juga haruslah memastikan bahwa tubuh anda bisa melakukannya dengan tidak mengalami kekurangan nutrisi apapun. Cek ke dokter, dan pastikan anda melakukannya dengan benar. Jangan seperti saya yang mencoba melakukannya sendiri dan akhirnya malah membahayakan tubuh. 

Dialog dengan diri sendiri secara kejiwaan memang penting, tetapi dialog dengan tubuh fisik juga ternyata harus dikedepankan. Saat ini saya memperbaiki diri dengan mengolah kembali pemahaman yang terbentuk dalam #eatlikeshahnaz, dan lebih memberikan diri saya nutrisi yang diperlukan untuk menjadi manusia yang betul-betul sehat. Cheers to a healthy life!

Climbing upon the 3-0 ladder
Mengimani Kebhinekaan