Kenapa harus cantik?

Sebelum memulai argumentasi saya, mungkin ada baiknya saya memberikan deskripsi tentang penampilan fisik saya. Saya perempuan berumur 29 tahun, bertinggi 165 cm, berat badan sekitar 53 kg, dan berkulit sawo matang. Baik Ibu dan Bapak saya memiliki kulit yang jauh lebih terang daripada saya. Sejak kecil Ibu saya sering berceloteh tentang betapa gelapnya kulit saya, dia selalu pusing kalau saya keasyikan main di luar rumah karena faktanya saya seorang anak perempuan yang harus dijaga "kecantikan"nya. 

Cantik yang dimaksud Ibu saya mungkin adalah cantik yang menjadi pemahaman oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Perempuan cantik berkulit putih. Maklum, lebih dari 300 tahun kita dijajah oleh bangsa berkulit putih. Mungkin ketika zaman penjajahan, kita (bangsa Indonesia) sering kesilauan melihat kulit putih mereka, para petinggi yang datang dari Eropa, di tengah legamnya kulit bangsa kita sendiri, yang makin hitam legam dibawah sinar matahari karena dipaksa bekerja untuk mereka. Namun sekarang sudah tahun 2018, Agustus nanti resmi 73 tahun kita merdeka dari jajahan negara lain. Akan tetapi kenapa ketika bicara mengenai standar kecantikan sepertinya persepsi ini tidak berubah sejak zaman penjajahan?

Sebagai perempuan Indonesia yang hidup di zaman modern, saya seringkali mendapatkan perlakuan yang membuat saya merasa terpojok ketika membicarakan standar kecantikan terutama mengenai warna kulit. Satu momen yang sangat saya ingat jelas adalah ketika saya SMA, saya selalu bermain softball di lapangan Pintu Satu Senayan. Ketika itu saya ingat bahwa sedang ada pertandingan sepakbola yang berlangsung di Stadion GBK. Saya bermain dengan teman-teman sekolah saya (saya bersekolah di SMA Tarakanita 1, sekolah homogen perempuan) yang berkulit putih dan luar biasa cantik. Seperti biasa para penonton sepakbola ini berseliweran di luar lapangan menonton dan menggoda-goda kami,

 "Cewek... Cewek.. suiiit... suuuittt..." saya yang kebetulan judes (nggak kebetulan sih memang saya judes...) sempat berhenti sejenak dan melihat ke arah mereka. Saya bertekad ingin menegur mereka, agar kita bisa melanjutkan latihan kita dengan fokus.

"Apaan sih lo?" tanya saya dengan penuh amarah.

"Elo tuh yang apaan? Item, jelek lo!" jawab salah satu penonton sepakbola tersebut. Mungkin memang ia cuma sekadar ingin memaki saya yang galak ini, tapi perkataan itu lumayan membekas di hati saya. Itu terjadi ketika saya masih belia, dan saya bertumbuh dewasa dengan mengingat bahwa saya tidak cantik. Saya tidak cantik. Ketika saya tidak punya pacar, saya paham, oh ya ini karena saya tidak cantik. Saya hitam dan tidak cantik.

Pemahaman saya berubah 180 derajat ketika di umur saya yang ke 21 tahun, saya terpilih menjadi Pemenang 1 di Pemilihan Wajah Femina, sebuah pemilihan model yang saya ikuti hanya karena saya ditantang beberapa orang. Saya yang selalu berambut pendek (karena rambut saya terlalu tipis untuk dipanjangkan), dan berkulit jauuuuh lebih gelap dari seluruh finalis lain, dapat menjadi pemenang 1? Para juri sempat menyatakan bahwa kulit saya yang gelap ini adalah aset saya untuk berkarir di dunia modeling. Saya sempat berpikir, ah mungkin mereka bercanda, tapi ternyata memang inilah yang membuat saya cukup berbeda kemanapun saya pergi. Kulit saya yang saya yang membuat saya selalu merasa tidak cantik, ternyata kali ini akhirnya membuat saya merasa cantik. 

Saya juga tidak menyangka bisa melangkah sejauh ini ke dunia pertelevisian, jujur hati saya sempat goyah memikirkan diskriminasi yang saya terima karena dianggap "tidak sesuai" dengan standar kecantikan para pengagum kulit putih. Banyak komentar pedas yang saya terima membanjir di media sosial, kadang ini juga menjadi sumber ketidakpercayaan diri saya. Kadang sesimpel, "wah hitam ya tapi manis kok.." akan tetapi pernah juga, "wah kontras banget ya warna kulitnya.." atau "wow kulitnya gelap banget.."

Yang cukup mengerikan, komentar-komentar ini seluruhnya datang dari laki-laki. Bayangkan rasanya jadi istri-istri mereka? Hiiii... bisa jadi para istri harus pakai Bayclin untuk membuat mereka senang. Tapi dengan saya stay menjadi penyiar televisi berkulit sawo matang, saya rasa ini bisa jadi bagian dari nasionalisme saya yang tidak akan pernah mau tunduk dengan standar kecantikan dari dunia periklanan yang selalu membanjiri berbagai media dengan perempuan berkulit putih, berdarah campuran. Saya anggap perjuangan saya untuk mengembalikan persepsi cantik sebagai perempuan Indonesia adalah cara saya menolak penjajahan yang "dipaksakan" dalam nama kapitalisme, agar perempuan tiada henti membeli produk-produk pemutih kulit. 

Dengan kata lain yang ingin saya sampaikan adalah saya tahu bahwa saya tidak sendiri di sini, saya memiliki berjuta-juta kakak adik perempuan berkulit gelap lainnya di Indonesia. Seandainya masyarakat Indonesia (terutama para laki-laki) bisa lebih mengontrol mulut dan jempol mereka untuk tidak membedakan warna kulit, mungkin tidak ada lagi perempuan yang merasa terpojokkan karena warna kulitnya. Saya hanya ingin pemahaman "cantik" kita bisa diperluas dengan tidak hanya menganggap yang putih yang cantik, tetapi kulit orang Indonesia yang asli juga cantik. Saya hanya ingin standar kecantikan di dunia periklanan Indonesia bisa lebih "berwarna". Saya hanya ingin perempuan Indonesia bangga dengan kecantikannya. 

Digital Fast
Lamb Live in Paradiso, Amsterdam.