Lamb Live in Paradiso, Amsterdam.

Pertama kali saya mendengarkan Lamb di tahun 2003, saya tidak pernah menyangka bakal menyaksikan mereka secara Live, dan lebih menyenangkannya lagi di Amsterdam (it’s just the perfect city to enjoy their music). Saya ingat betapa terpukaunya saya (yang ketika itu baru 15 tahun dan duduk di bangku SMA) akan musik elektronika yang bernafaskan trip hop, drum and bass, dengan sentuhan Jazz ini. Meskipun musik mereka tidak sampai masuk ke kancah komersialisasi dalam industri musik, tetapi album pertama Lamb di tahun 1996 yang berjudul nama band ini sendiri, terbilang cukup sukses dalam menancapkan kuku di dunia musik kala itu.

Cuaca di bulan Oktober pada malam itu cukup dingin, akan tetapi begitu kami tiba dengan hati gembira di venue konser, Paradiso, terlihat antrean sudah cukup mengular. Yang menarik bagi saya dan suami, yang memang berangkat ke Belanda khusus untuk menonton konser beberapa musisi favorit kami, adalah crowd yang begitu “mature” hahaha… Ya mungkin memang musik Lamb, tidak semenggairahkan musik elektronik zaman sekarang yang lebih pas untuk bergoyang, but little do they know bahwa banyak musisi elektronik yang terpengaruh gaya bermusik dari Lou Rhodes dan Andy Barlow.

Ketika kami memasuki aula, terlihat panggung yang cukup kecil dan intim, tanpa backdrop yang berlebihan ataupun tata panggung andalan musisi dalam negeri. Hanya kain hitam, dan beberapa lampu yang terpajang berjarak untuk memberikan efek kedalaman. Paradiso adalah bangunan bekas gereja, yang sejak 1968 digunakan sebagai pusat hiburan, dan saat ini digunakan sebagai concert hall, jadi bisa dibayangkan suasana kuno bercampur dengan modern yang kami rasakan saat itu.

Dibuka dengan Lusty, Lou Rhodes masuk dengan menggunakan gaun berwarna emas dan perak, dan headpiece ranting emas. Setelah lagu pertama selesai, band asal Manchester, Inggris ini langsung melanjutkan dengan God Bless dan Cotton Wool, yang dua-duanya juga berasal dari album pertama mereka. Barulah ketika kita bertanya-tanya kapan mereka akan membawakan lagu dari album lainnya, Andy Barlow menjelaskan bahwa mereka akan memainkan semua lagu dari album Lamb untuk memperingati 21 tahun album tersebut. Tentu saja hal ini disambut tepuk tangan riuh dari seluruh penonton yang menyambut mereka membawakan seluruh rangkaian lagu mereka dari album yang dirilis tahun 1996 itu, yang dibawakan juga dengan urutan yang sama.

Lou Rhodes meninggalkan panggung di akhir lagu terakhir dari album Lamb yang berjudul Feela, disambut dengan Barlow yang langsung mengambil alih microphone untuk menceritakan awal mula berdirinya band ini. Untuk sebuah band elektronika yang terkesan gelap, saya terkejut ketika mendapati frontman band ini begitu atraktif dan penuh dengan humor.

Diselingi dengan Angelica, Rhodes kembali lagi ke atas panggung untuk membawakan What Sound dan kali ini ia sudah berbalut gaun berwarna merah. Begitu senangnya saya ketika ia sempat membawakan lagu favorit saya dari Backspace Unwind, yakni As Satelites Go By.

Konser ini diakhiri dengan Illumina, lagu terbaru dari mereka di tahun 2017. Dengan dua buah lagu encore, yang sudah bisa ditebak yaitu hits terbaik mereka Heaven dan Gabriel. Keseluruhan konser berjalan seperti yang kami harapkan, dengan keapikan dari seluruh personel. Never thought I’d hear Lou Rhodes’ voice so loud and clear. Sebagai penggemar elektronika yang sudah begitu rindu akan bunyi elektronik tanpa jedak jeduk yang berlebihan, Lamb mampu membawa kami yang sudah “dewasa” ini, untuk kembali menikmati masa remaja kami. ☺



Kenapa harus cantik?
Eat Like Shahnaz