Perempuan dan Perbandingan

Belakangan ini saya sedang kembali dilanda demam Friends. Akibat Netflix (ya semua karena Netflix) saya jadi kembali menonton serial tv legendaris ini dari season 1, dan berencana untuk terus marathon sampai season 10.

Dari berbagai kejadian yang ada di dalam serial ini, ada satu episode dari season 7 yang berjudul “The One with Monica’s Thunder” membuat saya menyadari sesuatu. Episode ini adalah cerita lanjutan dari pertunangan Chandler dan Monica. Secara spesifik, di episode ini diceritakan mengenai perasaan Monica yang merasa Rachel mencoba untuk steal her thunder dengan kembali bermesraan dengan Ross di selasar apartemennya. Ketika akhirnya Rachel mengakui bahwa dirinya sedih dan menyesali perbuatannya, ia menyatakan hal yang terdengar familiar untuk saya.

“Look, I am so.. so happy for you guys, but you getting married just reminds me of the fact that I’m not. I’m not even close. And I don’t know, maybe I just wanted to make myself feel better. And I know that that’s dumb, but oh my God you were so depressed when Ross got married that you slept with Chandler!”

Saya yakin banyak dari kita (perempuan) yang pernah atau sering merasa seperti Rachel, akan tetapi tidak seluruh perempuan berani untuk mengakui dan mengatakan perasaannya segamblang Rachel. Kenapa perasaan Rachel sangat familiar? Saya rasa jawabannya hanya satu, karena kita tidak pernah berhenti membandingkan diri kita dan hidup kita dengan perempuan lain. Kita tidak pernah berhenti untuk berkompetisi untuk menjadi perempuan yang lebih baik dari yang lain.

Perbandingan ini terjadi di setiap masa di dalam hidup kita. Ketika kecil mungkin kita berkompetisi untuk memperoleh perhatian orangtua demi mendapatkan permen yang lebih banyak. Saat remaja, kita tidak berhenti untuk merapihkan diri demi dilirik oleh cowo yang kita sukai. Saat dewasa, kita berlomba-lomba untuk menemukan tambatan hati, lalu menggelar pernikahan yang lebih indah dibanding perempuan lain. Saat menjadi ibu (ini yang paling sering saya temui) banyak yang mencoba jadi ibu yang paling hebat dibandingkan dengan ibu-ibu yang lain.

Fakta yang mengerikan adalah seluruh kontes ini tidak ada pemenangnya, seluruh kontes ini hanya terjadi di kepala perempuan. Mungkin ini terjadi tanpa kita sadari sudah sejak lama, kecenderungan perempuan yang selalu menjadi “yang dipilih” atau “yang patut dimenangkan” sudah menyebabkan banyak percekcokan bahkan sejak zaman Helen of Troy.

Penelitian dari firma McKinsey & Company yang telah mensurvei 1421 eksekutif bahwa di lingkungan kerja, 83% perempuan memiliki kemampuan untuk berkompetisi dan mencapai posisi tinggi di sebuah perusahaan, mengalahkan laki-laki yang hanya mencapai 74%. Artinya kita memang diciptakan untuk berstrategi dan berkompetisi secara konstan, dan akhirnya lebih membuat kita mampu untuk membuktikan diri dibandingkan dengan laki-laki. Dan ini juga membawa kita seharusnya mempunyai kesempatan dan pendapatan yang sama dengan laki-laki (ini akan saya bahas lebih lanjut di lain kesempatan).

Akan tetapi yang ingin saya garisbawahi, hasrat berkompetisi yang dimiliki perempuan ini akhirnya menyebabkan banyak depresi yang saya dapati di lingkungan saya. Tidak hanya yang memang mencoba untuk mencari pertolongan dan mengakui stressnya, tetapi juga yang tidak menyadari kadar stress dirinya, dan akhirnya menyakiti dirinya ataupun orang lain di sekitarnya.

Dari beberapa penelitian yang saya baca, stress di perempuan makin tahun makin bertambah, salah satunya juga karena media sosial yang akhirnya membuat seorang perempuan (mayoritas ibu-ibu muda) membandingkan hidupnya dengan apa yang ia lihat di timeline. Inilah yang memicu makin maraknya kompetisi yang makin berdarah-darah untuk lebih bahagia, lebih kaya, lebih sering jalan-jalan, lebih bagus badannya, lebih kurus, lebih berbentuk, lebih jago masak, lebih pintar daripada perempuan-perempuan lainnya. Dan perbandingan-perbandingan lain yang tidak akan ada habisnya.

Yang ingin saya sadarkan adalah, come on, girls! I know you are better than that! Menurut saya, nggak ada faedahnya tuh membuat orang lain merasa “kurang” atas pencapaian dirinya. Meskipun penilaian di kepala kita akan selalu ada, tapi cobalah untuk lebih bersyukur dan lebih jujur pada diri sendiri dan juga kepada orang lain. Gunakanlah kesempatan yang kita miliki untuk lebih mencerahkan satu sama lain, instead of making other women feel bad about themselves.

Mulailah dengan diri kita sendiri, cobalah untuk lebih suportif instead of kompetitif terhadap perempuan lain. Pilihan kita adalah yang terbaik untuk diri kita sendiri, bukan untuk hidup orang lain. Semua orang diciptakan berbeda dengan keunikan masing-masing, tentu saja ini juga akan bermuara di jalan hidup yang berbeda-beda sesuai dengan pilihan masing-masing. Stop membandingkan diri kita dengan orang lain, dan mulailah berkolaborasi dengan orang banyak. Do good to feel good. Seperti yang dikatakan oleh salah satu band favorit saya, Massive Attack, be thankful for what you’ve got!  ;P Anda hanya satu di dunia, dengan hidup sempurna sesuai dengan yang anda butuhkan, you are great, you are enough! :)

Ways to Spend Less Money in Jakarta
Digital Fast