Preparing for Motherhood

Hi guys! terima kasih sudah mengunjungi situs ini :) ini adalah post pertama saya di 2019, mohon maaf belum bisa sering update karena banyak yang sudah dikerjakan, banyak yang dipikirkan, banyak yang dipersiapkan. Saya mempersiapkan diri sematang mungkin untuk kehadiran bayi pertama kami yang sudah cukup lama dinantikan. 

Kadang saya sulit untuk percaya bahwa waktunya sudah sangat dekat untuk menyambut dia, bayi kecil yang dari dulu saya bayang-bayangkan. Rasanya hingga saat ini bingung, saya bingung begini, saya bingung begitu, banyak sekali bingungnya. Saat kebingungan inilah saya merenungkan persepsi yang selama ini terbentuk di masyarakat mengenai sosok ibu.

Sejak masih kecil, sejak pertama memahami sosok ibu, yang ada di kepala saya adalah seseorang yang begitu dahsyat melindungi dan mengerti segala hal yang dibutuhkan oleh anaknya. Apapun yang anaknya inginkan, butuhkan, perlukan, selalu saja seorang Ibu akan hadir dengan begitu cekatan dan menjawab semua keperluan anaknya. Akan tetapi, saat ini saya mendekati waktu menjadi seorang Ibu dan perasaan saya masih saja seperti anak kebingungan yang tidak tahu harus berbuat apa untuk anaknya. 

Perjuangan untuk menjadi Ibu Super ini membuat saya membaca banyak sekali buku dan melakukan riset setiap hari. Tidak terhingga berapa banyak pertanyaan yang saya ajukan untuk Google dan juga ratusan artikel yang sudah jadi makanan saya setiap hari sejak trimester pertama. Saya mencari tahu stage kehamilan saat ini, apa yang terjadi dengan tubuh saya, pelajari ilmu parenting, mencari cara untuk membagi waktu bayi dengan pekerjaan, warna terbaik untuk mata bayi, dan sejumlah hal lain dari yang penting hingga yang remeh temeh semua saya telaah satu per satu.

Di dalam proses ini, saya kewalahan karena banyak sekali metode yang menentang satu sama lain, yang akhirnya membawa saya kembali pada kondisi paling awal, yakni KEBINGUNGAN. Jika saya bisa didampingi Ibu Peri, mungkin inilah saat saya paling membutuhkannya, bukan pada saat ingin pergi ke pesta demi bertemu pria yang saya kagumi. Saya bingung metode terbaik, karena belum juga memahami tabiat si bayi, saya belum  juga paham membeli ini itu, karena belum tahu apa yang dibutuhkan si bayi, akhirnya saya hanya berdiam diri dan merenungkan semuanya lagi.

Dalam kebingungan saya, akhirnya saya malah lebih sering berbicara dengan diri sendiri dan melakukan banyak hal yang ternyata membawa ke berbagai jawaban mencerahkan. Ketika saya kebingungan hal yang saya lakukan adalah mendekatkan diri dengan ketenangan jiwa, seperti melakukan yoga dan meditasi. Saya mencoba untuk berkomunikasi dengan hal yang paling mendasar di dalam diri saya, yakni insting. Saya lepaskan apa yang saya pahami dan saya renungkan, dan membiarkan diri saya merasa. 

Akhirnya hal yang saya pelajari selama kehamilan ini adalah kebingungan yang sangat amat masuk akal. Saya cukup salah persepsi ketika mengira seorang ibu akan memperoleh semua jawaban secara otomatis. Ini adalah pekerjaan yang baru dipahami setelah dikerjakan dan dijalani. Ini adalah pekerjaan yang mempercayakan insting alami sebagai makhluk hidup. 

Intinya saya hanya harus berhenti sejenak dan menikmati proses hidup yang misterius ini. :) bingung itu biasa.

Relijius dan Spiritualitas