Relijius dan Spiritualitas

Hi guys! Thanks again for visiting this site! Belakangan ini saya tergerak dengan beberapa kejadian, sebenarnya sih tidak ingin berkomentar terlalu banyak, tapi mungkin juga perlu. Karena saya tahu followers dan juga pembaca blog saya adalah teman-teman yang bisa diajak berdiskusi, saya rasa tidak ada salahnya untuk mencoba.

Pada tahun 2016 saya resmi menutup akun twitter saya @S_mariela. Keputusan ini bukan tanpa sebab, saya yang iseng berkomentar akhirnya kena batunya ketika ranah media sosial dibanjiri oleh penyerang-penyerang yang datang entah dari mana.

Lontaran yang membuat saya kesulitan menerima reply yang membludak adalah : “Relijius bukan berarti selalu baik.” Begitu banyak kecaman untuk saya yang dianggap terlalu “kiri” dan dimaki-maki dengan bahasa yang wow banget. Saya pikir saat itu saya sudah melakukan kesalahan yang luar biasa dan membangkitkan amarah banyak orang. Tetapi, setelah lewat 2 tahun ini, my journey to find peacefulness has really taught me so much. Dan saya masih percaya pada perkataan saya saat itu, here’s why…

Saya berangkat dari keluarga yang menganut dua agama, saya yang tumbuh dengan lingkungan seperti ini sangat menikmati berbagai perayaan di keluarga. Tidak pernah ada rasa aneh di keluarga kami untuk memberikan selamat dan berbahagia bersama dengan saudara yang merayakan hari rayanya. Meskipun demikian, saya sendiri beragama Kristen Protestan.

Keluarga inti saya rajin ke gereja dan melakukan ritual keagamaan ini setiap minggu. Jarang sekali kami membolos, dan ketika membolos gereja karena satu atau dua hal, pasti kami merasa sudah melakukan dosa besar. Ritual ini berkembang bertahun-tahun, dan saya yakin juga berkembang di kebanyakan keluarga Kristiani di dunia. Tidak hanya itu, kami juga mengikuti kajian Alkitab demi lebih memahami Firman Tuhan.

Menjadi seseorang yang taat akan Firman Tuhan adalah dambaan dari keluarga kami. Dan saya yang ditumbuhkan dengan iman dan keyakinan yang kuat akhirnya terbentuk menjadi pribadi solid yang sangat mengutamakan ritual keagamaan dalam hidup saya. Tapi tentu saja, ada yang terlupa, kepercayaan kuat yang ditanamkan ini tidak dibarengi dengan skil sosial yang perlu saya kembangkan. Akhirnya saya sering terlibat argumentasi demi argumentasi yang mempertanyakan isi dari Alkitab.

Banyak kejadian yang membuat saya bukannya lebih menerima keadaan dunia, tapi malah lebih emosional dalam mempertahankan argumentasi berlandaskan apa yang saya yakini. Hal ini membawa saya ke perenungan yang masih saya lakukan hingga saat ini. Saya yang cukup kuat dalam pendirian juga hampir selalu merasa lebih baik dari orang lain yang belum melakukan ritual keagamaan, dan saya bangga akan “kebaikan” yang saya anggap sudah saya lakukan.

Merasa bangga akan diri sendiri, merasa lebih baik dari orang lain, dan selalu siap berargumentasi dalam mempertahankan keyakinan. Inilah yang saya lakukan saat itu, dan entah kenapa hati kecil saya tidak meyakini bahwa saya adalah orang yang baik. Saya merasa keras dan siap nyolot setiap saat. This is not the right way to live.

Mulailah saya mencoba mencari hal lain untuk memberi “makan” jiwa saya. Perkenalan saya dengan yoga yang selalu mendambakan keseimbangan dalam tiap hal, membawa saya ke rasa penasaran untuk lebih terus mencari makna kehidupan. Untuk menerima segala sesuatu lengkap dengan keterbatasannya dan stop memimpikan dunia yang ideal, membawa perenungan saya ke dalam meditasi. Meditasi mengajarkan saya untuk mensyukuri keadaan saat ini, diri saya sendiri, orang-orang di sekitar saya, dan cinta yang saya rasakan.

Spiritualitas. Itulah yang saya temukan lewat perenungan-perenungan dalam meditasi. Saya lebih sering berdoa dan bersyukur atas begitu banyak nikmat hidup. Saya lebih memilih untuk tidak berargumentasi mempertahankan pendapat saya sendiri, dan yang paling penting adalah saya tidak mengambil kebanggaan dalam ritual yang sudah saya jalani. Saya tidak merasa diri saya lebih baik dari orang lain. Saya menerima dosa saya, dan berharap Tuhan dan alam semesta selalu memeluk dalam kedamaian.

Meskipun saya masih jauh dari spiritualitas tinggi, namun saya sadar bahwa hal inilah yang memberikan kedamaian dan keyakinan penuh atas apa yang kita jalani dalam hidup. Spiritualitas mengajarkan saya untuk percaya, menerima, dan mengasihi setiap orang, dan setiap makhluk yang kita temui. Bahkan spiritualitas mengajarkan untuk menghargai dunia dan menjaga lingkungan.

Lewat perjalanan ini, saya mendapati bahwa relijius dan spiritualitas adalah hal yang berbeda. Banyak orang yang bisa menjadi sangat relijius tetapi lupa mengasah sisi spiritualitasnya. Ritual agama dijalankan menjadi kewajiban tanpa memaknai tiap langkah dalam ritual tersebut. Tetapi banyak juga yang bisa menjadi sangat relijius dan sangat spiritual di waktu bersamaan. Itulah orang-orang yang pantas menjadi pemuka agama yang bisa menghangatkan hati tiap umat yang mendengarkan ajaran dari mereka.

Fenomena keagamaan di Indonesia belakangan ini, kembali mengingatkan saya akan pemahaman yang saya bicarakan di atas. Banyak sekali orang di luar sana memakai agama di lengan mereka dengan hati yang angkuh. Inilah yang menyebabkan begitu banyak perpecahan terjadi. Keangkuhan hati yang dibalut kata-kata kasar dan celaan terhadap orang lain yang tidak memiliki keyakinan yang sama, seakan menjadi kebiasaan dan hobi yang senang sekali untuk masyarakat lakukan.

Tahukah mereka bahwa dunia yang ideal itu tidak ada? Jika semua orang berkeyakinan sama pun, pasti masih ada masalah lain di masyarakat. Why can’t we accept our limitations? If we so believe in heaven, then heaven will be the most wonderful place for us to be, not here, not in this earth. Kita harus berbagi dunia, kita harus berbagi negara, dan yang terpenting berbagi kedamaian. Kalau bukan energi positif yang akan kita tularkan, kenapa harus kita berdiri di panggung dan berteriak-teriak?

Mungkin tidak banyak orang yang akan membaca tulisan ini, ataupun mengerti maksud saya. Tapi saya percaya saya bisa berbagi kedamaian, dan berbagi pengertian. Choose kindness, for kindness is much more important than being right. 

People Change, Friendship Ends