Sometimes I talk about Love pt. 1

Never was a sucker for Valentine’s Day.. But this year I think I’ll make an exception, this one is for my husband.

Sebenarnya kami berdua bukan pasangan romantis, kami pasangan yang sangat realistis, berpijak pada kenyataan, dan tidak pernah berandai-andai. Hubungan kami dimulai di tahun 2005, ketika saya masih berstatus “punya pacar”. Sebagai anak SMA di sekolah homogen (iya yang seragam kotak-kotak itu, yang sering banjir) saya lebih banyak menghabiskan waktu mengulik musik dan film. Mayoritas anak-anak sekolah kami tidak berdandan kalau ke sekolah, karena tidak ada cowok, ya mau dandan genit-genit juga ngapain ya?

Saat duduk di bangku kelas 3, kami selalu dihadapkan pada acara tahunan, dan tahun itu saya kebetulan memegang tanggung jawab untuk menentukan band yang tampil di Aviatar (ini nama acaranya tahun itu). Pria misterius ini adalah seorang manager band ibukota, yang kebetulan akan kami hire untuk tampil, akhirnya kami janjian untuk bertemu. Pertemuan kami cukup berkesan, karena kami akhirnya berbincang lebih dari 1 jam (harusnya memberi CD demo bisa dilakukan dalam 5 menit saja). Kami memiliki banyak kesamaan dalam selera musik, dan ini membawa perbincangan kami bergerak ke segala jenis band, rekomendasi musik, sampai lupa waktu. If anyone told me back then that he was my future husband, pasti saya menyangsikan seribu kali.

Dan akhirnya setelah melewati drama, si ini cemburu, si itu tidak suka, putus, berantem, air mata berlinang (let me skip this phase), kami menjalani hubungan tanpa ekspektasi. Sebenarnya ekspektasi saya sangat rendah, tidak pernah terpikir akan menjalani hubungan indah happily ever after, menikah, settle down, dan ini itu. Tidak pernah demikian. Karena hidup tidak sesederhana itu, yang bisa kami lakukan hanya berusaha untuk membuat hubungan kami lebih sederhana. Saya berencana meneruskan studi di luar negeri, jadi hubungan kami punya expiration date.

Kami hanya menjalani hari-hari seperti kisah asmara remaja biasa. Calon suami saya ini sering menjemput saya pulang sekolah dan mengantar pulang ke rumah. Tapi kadang kami nonton film-film terbaru di Grand Wijaya Center. Wah masih remaja pacaran di bioskop gelap-gelapan banget nih? Jawabannya saya nggak pernah suka pacaran di bioskop, karena nonton film itu momen yang selalu saya lakukan dengan khusyuk! Yang suka film pasti paham dengan perasaan ini hahaha…

Selain itu, kami juga menghabiskan waktu untuk mendatangi berbagai pagelaran musik di Jakarta. Kebetulan tahun-tahun itu adalah masa keemasan band-band indie di tanah air. Kami kesana kemari untuk mengejar band ini dan itu. Tapi konser pertama yang kami tonton berdua yang tidak akan saya lupakan adalah Kings of Convenience. It was wonderful, pertama kali mereka ke Jakarta, karena setelah itu agak sering bolak balik ya bapak-bapak ini.

Every arguments, every fights terlewati begitu saja karena di umur saya yang masih meledak-ledak secara emosional, saya memiliki seseorang yang lebih stabil dan bisa menghadapi saya dengan kepala dingin. Saya adalah seseorang yang penuh dengan pertanyaan di kepala, semua hal saya pertentangkan, dan argumentasi diperlukan bahkan di dalam hal sepele. Yeap.. teenager, mau diapakan? 

Sometimes I talk about Love pt. 2
How to Prevent Post Workout Breakout