Sometimes I talk about Love pt. 2

Tahun 2006, beberapa perubahan terjadi, saya batal untuk pergi studi ke luar negeri, karena Papa meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Sebenarnya kecewa, tapi akhirnya saya paham mungkin ini semua firasatnya, karena beliau harus berpulang ke rumah Bapa dan meninggalkan kami semua di tahun 2008. Akhirnya saya memilih untuk berkuliah di Karawaci. Ekspektasi saya ketika kuliah dan berhubungan dengan calon suami saya ini juga tidak jauh berbeda, saya pikir saya bakal putus. Hahaha… Saya pikir saya akan sibuk kuliah, tersita perhatian pada dunia sosial baru, bertemu cowok-cowok kampus, dan hubungan kita sampai di situ. Tapi ternyata, jika seseorang berkomitmen tanpa menyerah pada nasib, takdir, destiny, atau apapun ini yang membuat orang pasrah untuk bekerjakeras mempertahankan hubungannya, kejadiannya sungguh berbeda dengan ekspektasi.

He stood by me through everything. Bahkan ketika saya harus menghadapi fakta bahwa penyakit Ayah saya makin buruk, di saat yang sama saya harus menghadapi Ujian Akhir Semester. Papa saya dilarikan ke China untuk mendapatkan pertolongan yang lebih baik. Akan tetapi di Desember 2008, kenyataan pahit harus kami hadapi. Kami hanya menghabiskan kurang lebih 4 hari bersama Papa sampai akhirnya penyakit Papa yang menang. Ia masih sempat membaca kartu-kartu Natal pemberian kami yang terakhir untuknya. Momen ini jarang saya kunjungi, bahkan di pikiran saya sekalipun, karena terlalu menyakitkan. Saat pemakaman Papa, saya memilih untuk menjadi dewasa, dan tegar. Either way, I’m glad that Papa got the chance to meet my future husband. Dan saya juga bersyukur, calon suami saya berada di sana untuk menemani saya di setiap detiknya. Dia bukan orang yang romantis dan penuh dengan kata-kata manis, dia orang yang riil dan dia selalu hadir. Sometimes, you don’t need anything else.. just someone to hold your hand and tell you that you are strong.

The thing about him, dia nggak pernah curiga pada saya. Dia membiarkan saya mengeksplor dunia sosial. Dia membiarkan saya melakukan apapun yang saya suka. Dia membiarkan saya berkarya dan berpendapat. Saya melewati bangku kuliah dengan mulus, dan berkarya dengan hati. Beberapa saat menjelang kelulusan saya mencoba menjajal dunia baru, hanya karena saya ingin takut sulit mendapatkan pekerjaan. Saya mencoba untuk masuk ke dunia modeling dengan mengikuti ajang pencarian bakat. Di sini juga saya pikir saya akan mendapat banyak “godaan” atau dunia saya akan berbeda dengannya, dan akan membawa kami ke akhir hubungan kami. Tapi tentu saja itu juga tidak terjadi.

Setelah itu saya melangkah mantap untuk masuk ke dunia broadcasting, dan memilih untuk melewati jalur sebagai reporter lapangan. Saat masuk ke dalam profesi baru ini, bisa dibilang modal saya 0 besar, baik dari kemampuan maupun finansial. Dan alangkah senangnya saya mendapatkan support yang luar biasa dari kekasih saya. Di kantor baru, beberapa orang mengatakan bahwa profesi baru ini akan membawa petaka ke hubungan saya dengan pacar saya, bahkan ada yang bilang “tungguin aja, bentar lagi juga putus!” Tapi kembali lagi, itu tidak kejadian hahaha.. Faktanya malah sebagai perempuan muda yang harus selalu berpenampilan menarik karena harus siap untuk “tampil” di kamera, saya merasa terlalu banyak pria tidak baik di luar sana. Saya mendapatkan tawaran ini itu, gombalan kanan kiri, yang akhirnya jadi bahan tertawaan untuk saya dan pasangan.

Sometimes I talk about Love pt. 3
Sometimes I talk about Love pt. 1