Sometimes I talk about Love pt. 3

Dunia jurnalistik buat saya memang sangat menantang, begitu banyak dinamika di lapangan dan di layar, hal ini menyebabkan 24 jam sehari rasanya sungguh sangat kurang. Akan tetapi, pekerjaan saya sebagai jurnalis TV membuat hubungan saya renggang. Tiap saya bertemu dengan sang kekasih, saya selalu sudah terlalu capek untuk tersenyum, dan akhirnya saya malah bersungut-sungut. Kerenggangan ini ternyata bukan hal yang nyaman untuk saya, dan juga untuknya. Di usia hubungan kami yang sudah menginjak 7 tahun, saya dan dia bingung, mau dibawa ke mana hubungan ini?

Dalam kerenggangan inilah, sepertinya kami mencoba refleksi diri dan ia akhirnya memberanikan diri untuk mengajak saya menikah. Tentunya hal ini tidak mudah, karena load kerja saya yang luar biasa dan amburadul. Di sinilah saya merasa saya harus mengalah. Bukan tempatnya seorang istri untuk lebih takut pada suara kantor, daripada suaminya sendiri. Maka dari itu saya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih “aman” jadwalnya, dan setuju untuk melangkah bersama menuju pernikahan.

Kami bertunangan hanya dalam hitungan bulan setelahnya, dan merencanakan pernikahan kurang lebih 5-6 bulan. Terburu-burukah? Setelah 8 tahun berhubungan, rasanya tidak ada yang perlu dibikin lama. Lagipula, pernikahan yang kami inginkan yang sederhana, dan penuh dengan intimasi. Kami hanya menikah di gereja, dan dilanjutkan dengan makan malam dengan keluarga. Kami memilih untuk melakukannya sejujur mungkin, tanpa sesuatu yang berlebihan.

Tidak berlebihan rasanya ketika saya bilang bahwa rezeki nikah itu ada. Kami mengawali hidup kami dengan kurang lebih hanya 5 juta rupiah di dalam tabungan, dan kami bangga akhirnya kami masih baik-baik saja hingga saat ini. Kami menikah dengan biaya sendiri, membangun rumah dengan keterbatasan, tinggal dengan seadanya. Semua kami lakukan dengan pengharapan bahwa hari yang lebih baik akan datang. Kejujuran dan kesederhanaan inilah yang membuat saya jatuh cinta berulang kali pada kekasih saya sejak SMA ini. You can’t stay in love with a person, you just fall in and out of love. But with the right person, you could fall in love a thousand times.

Pernikahan adalah hubungan yang penuh kompleksitas tinggi. Menyatukan dua individu di dalam satu tempat, lengkap dengan “keajaiban” masing-masing. Terlebih kami berdua adalah dua individu yang sangat menyukai kesendirian, tapi juga sangat menghargai pertemanan di dunia sosial kami. Sehingga di awal pernikahan, saya memutuskan untuk selalu memberikan ruang ke diri saya dan dirinya untuk tetap mempunyai “me time”. Ini kami lakukan untuk memberikan penghargaan kepada satu sama lain pada saat kita sedang berdua. Dengan rasa kangen yang kami jaga, agar kami selalu mesra ketika kembali ke pelukan masing-masing. 

Sometimes I talk about Love pt. 4
Sometimes I talk about Love pt. 2