The Value of Being Real

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ingin disukai. Rasa ini menjadi makin tajam ketika kita harus melewati segala tahapan kehidupan, seperti di sekolah, mencari pacar, mencari pasangan hidup, mencari kerja dan lain sebagainya. Dengan segala kebutuhan hidup yang harus dipenuhi seorang manusia membentuk karakter pribadinya untuk mencoba membuat dirinya diterima di lingkungan sosial yang ia pilih. Meskipun demikian, beberapa hal belakangan ini yang berkembang di masyarakat dan cukup mengusik untuk kemudian menulis perihal ini.

Menjamurnya sosial media mungkin juga menjadi trigger yang membuat saya menyadari bahwa dalam dunia maya, saking tidak jujurnya seseorang, malah ternyata makin memperlihatkan sisi paling dalam dirinya. Here's why! pernah melihat twitwar atau post dengan komentar tidak berakhir akibat banyak yang berseteru di dalamnya? I bet you all have!  Ya iyalah, wong nggak susah untuk mencari hal-hal seperti ini. Satu hal yang sangat mengusik saya adalah omongan dan cacian yang datang di sana, jika ditelisik lebih lanjut, banyak yang datang dari akun-akun yang memperlihatkan dirinya sebagai orang baik, menjalani perintah agama, mendekati kesempurnaan manusia. Pertanyaan saya, mengapa orang baik bisa sampai bermulut (atau berjempol) seperti ini?

Datang dari sesuatu yang sangat sederhana, keinginan untuk diterima di sebuah lingkungan berkembang menjadi suatu budaya di masyarakat Indonesia yang akhirnya berujung pada ketidakjujuran karakter. Di Indonesia dewasa ini, bisa saya bilang bahwa semua orang "mabuk politik" mungkin karena demokrasi yang disuap secara paksa dan tiba-tiba, sebelum karakter asli kita sebagai bangsa terbentuk. Akibatnya sekarang kita linglung dan mengamini apapun yang disuapkan kepada kita dan bersuara sangat keras bahwa ITULAH IDEALISME SAYA! Oopss saya membawa anda terlalu jauh... Anyway, ketidakjujuran karakter ini memang berkembang sejak kecil, kecenderungan untuk tidak mau "disalahkan" menjadikan kita makhluk yang penuh dengan strategi untuk membuat orang lain menyukai kita, menyukai kita bukan karena apa adanya, tapi dengan menutupi karakter asli diri kita.

Fenomena ini berkembang karena masyarakat Indonesia senang hidup berkelompok, Makin besar rasa aman yang diciptakan di dalam kelompok, maka akan makin mudah bagi kita untuk mencerca orang yang di luar kelompok kita. Masalahnya, untuk diterima dalam suatu kelompok inilah yang membuat kita mencoba untuk menetralkan diri, menjadi some sort of angel from heaven dan menutupi karakter asli kita dengan "sosok ideal" yang dibentuk oleh masyarakat. Bagaimana sosok ini? Ya itu tadi, orang yang alim, dekat dengan Tuhan dan penuh dengan wibawa atau nasehat menggurui yang entah ia dapat dari mana.

Jangan salah anggap tulisan ini sebagai ajakan untuk tidak menjadi "sosok ideal" tersebut, karena jika banyak "sosok ideal" ini, maka sempurnalah negara kita, dan makin sedikitlah kriminalitas yang terjadi di tanah air. Itulah doa kita bersama. Akan tetapi faktanya, di Indonesia, tindak kriminalitas terjadi tiap 1,36 menit. Dan menurut indeks tingkat kejahatan di Asia Tenggara, Indonesia menduduki tingkat nomor 4, setelah Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Artinya, si "sosok ideal" masyarakat yang dibentuk lewat sinetron-sinetron, buku, dan drama religi belum muncul menjadi tokoh penyelamat negara, apalagi menyebarkan hawa kebaikan di realita kita. 

Kembali ke pembahasan saya, kejujuran pada diri sendiri menurut saya adalah hal paling penting. Apakah perlu mengubah semua karakter diri sendiri dengan keberpura-puraan? Emosi manusia naik dan turun, itulah keindahan kita yang harus hidup dengan mencoba mencari keseimbangan ini. Tidak perlulah karakter sosok lain kita ambil sebagai topeng untuk dikenakan dengan keangkuhan tinggi, sebelum keseimbangan karakter bisa kita wujudkan di dalam diri sendiri. The most free person in the world, is the one without nothing to hide. 

How to Prevent Post Workout Breakout
Ways to Spend Less Money in Jakarta