There’s Nothing Bad About 
Nick Cave and The Bad Seeds

Menyaksikan secara langsung aksi dari salah satu pahlawan experimental rock Nick Cave and The Bad Seeds tentu menjadi impian banyak orang. Termasuk saya. Mimpi berada dalam satu gedung penuh atmosfer indah bersama lagu-lagu Nick Cave and The Bad Seeds akhirnya terwujud di bulan Oktober tahun 2017, di kota Antwerp, Belgia.

Di kota kecil ini perjalanan selama 20 menit dari pusat kota menuju venue membawa saya untuk mendengarkan ragam percakapan beberapa orang dari berbagai Negara, berbincang di dalam tram tentang kecintaan mereka pada band yang terbentuk 34 tahun lalu ini. Beragam sudut pandang yang saya tangkap sekilas. Senyum saya mengembang, berada dalam sebuah tujuan yang sama: Nick Cave and The Bad Seeds.

Ketika saya tiba di Sportpaleis terbayang sudah pertunjukkan seperti apa yang akan saya saksikan dengan ribuan pengunjung yang sudah memadati tempat itu. Panggung besar diapit dua layar ditaruh di tengah stadion dengan kapasitas 23 ribu orang, dan tidak lupa juga satu layar besar diletakkan di tengah stadion yang diperuntukkan bagi para penonton tribun.

Meskipun tata panggung bisa dikatakan sangat sederhana (berbeda dengan Indonesia yang biasanya banyak bertaburan logo sponsor), akan tetapi atmosfer yang terbangun membuat kami tidak sabar untuk menanti penampilan apik mereka.

Tepat pukul 9.15 waktu setempat raungan khas dari sound yang tercipta dari musik Nick Cave menyentak stadion. Komposisi “Anthrocene” dari Skeleton Tree album mereka di tahun 2016 menjadi lagu pertama membuat saya merinding. Sensasi yang terbangun dari musik mereka, plus vokal misterius Nick Cave.

Dengan keadaan stadion gelap gulita dengan hanya beberapa lampu menerangi Nick Cave, dia langsung melanjutkan repertoar dari salah satu konser musik paling intens yang pernah saya tonton ini dengan lagu kedua, “Jesus Alone”.

Di lagu kedua ini barulah penonton bisa menyaksikan layar menyala dengan suguhan gambar hitam dan putih yang luar biasa sedap dipandang. Lirik... “With my voice I am calling you...” dinyanyikan dengan rintihan emosi yang hanya bisa dilakukan oleh seorang legenda.

Kepedihan memang menjadi unsur utama dari album Skeleton Tree pasca meninggalnya putra dari Cave akibat jatuh dari tebing saat dibawah pengaruh LSD. Dalam interview dengan The Guardian, Cave sempat mengatakan bahwa ia ingin pertunjukkan musiknya lebih uplifting and inspiring, terlepas dari kenyataan bahwa album ini cukup mengeksplorasi rasa sakit hati.

dan suguhan dari album yang dikeluarkan di tahun 2016 ini berakhir dengan komposisi “Magneto”. Koneksi Cave dengan penonton juga terus berlanjut ketika ia semakin jarang menghabiskan waktu di atas panggung dan semakin sering mencondongkan dirinya di tengah penonton. Tabuhan drum dari Thomas Wydler dalam “Higgs Boson Blues” juga membuat kami sulit untuk tidak mengagumi drummer asal Switzerland ini.

Dengan meyakinkan satu persatu personil menunjukkan kebolehan mereka di dalam konser berdurasi kurang lebih 2 jam ini. Tetapi favorit saya di malam itu yang memberikan perfomance of a lifetime dan tidak akan saya lupakan adalah Warren Ellis yang membuat mata saya tidak berkedip. Dalam “From Her to Eternity”, Ellis seakan terbawa ke alam lain melalui permainan biolanya yang memang out of this world.

Sebagai pecinta musik tentu bukan hal yang aneh untuk larut di dalam gelombang energi saat menyaksikan permainan musik para musisi legendaris, tetapi bagi saya, Nick Cave and The Bad Seeds memperlihatkan betapa menyenangkan dan betapa mereka menikmati setiap momen di atas panggung dan tentunya inilah yang ditunggu para fans.

When I finally get to set my eyes on Nick Cave and he mumbles Higgs Boson Blues.. ✨ #nickcaveandthebadseeds #antwerpen #bucketlistconcerts

A post shared by Shahnaz Soehartono-Wiratsongko (@shahnaz_soehartono) on


Mulai dari lemparan gurauan yang diberikan satu sama lain, beberapa sindiran yang dilontarkan Cave di dalam gubahan liriknya kepada pemerintahan Trump, hingga melodi penyayat hati yang seakan tidak ingin berhenti dimainkan oleh para personil.

Lagu “Stagger Lee” menjadi lagu paling menghentak para penonton yang ikut bergumam mengikuti lirik lagu folk yang sudah berusia 100 tahun ini. Lagu ini tertuang di album Murder Ballads (1996).

Nick Cave and The Bad Seeds menutup malam itu dengan mahakarya lembut “Push the Sky Away” dan menyisakan rasa yang begitu hebat di hati para penonton, termasuk saya dan pasangan.

Go and book your ticket because you need to see them live on stage, at least once in your life!


ditulis untuk www.qubicle.id



Yes, I am a Pescetarian.
Radiohead Live at Lollapalooza Berlin 2016